Rabu, 12 Maret 2014

Gelembung Asa

Kini rintik hujan telah menyapa
Entah mengapa rindu akan hujan semakin membuncah
Namun, tetap harus bersabar menanti datangnya musim hujan
Meski anomali kadang menghadang...
 
Langit kala itu semakin mendung dan gelap 
Ia memang bukan lilin yang merelakan dirinya habis terbakar 
Demi menerangi sekitarnya
Ia hanyalah redup yang usang dan tiada bersinar
Ia hanya ingin hujan mengenal dirinya apa adanya
Membiarkan hujan mencumbuinya
Meski itu bisa membuatnya semakin redup dan padam
Ia hanya berusaha memeluk gelembung asa yang telah ia buat
Agar tak pecah menjadi puing-puing

https://www.facebook.com/teeamtamzir.bugeazt?ref=tn_tnmn
(29 Oktober 2012 pukul 15:03)

Bukan Aku, melainkan Kita

Sejenak kembali terhanyut 
Ribuan warna membuai mata 
Senyum, tawa mulai terngiang 
Kisah itu masih melekat nyata dalam imaji 

Kini, ku menemuimu meski dalam asa 
Ku tatap dalam-dalam bidikan itu 
Serasa kembali ke masa itu 
Waktu begitu cepat berlalu 
Raga pun harus terpisah 
Meski jiwa begitu ingin slalu bersua
Kini, rindu itu kian membuncah 
Tumpah ruah menggenangi dinding asa 
Kelak kan bersua meski alur masih berliuk

#Republik B PBSI 08

https://www.facebook.com/teeamtamzir.bugeazt?ref=tn_tnmn

(7 Maret 2013 pukul 19:45)


Bayang-Bayang Fatamorgana

Sudah lama tak terdengar sapaan sang Bayu 
Sudah jauh dari pelupuk mata bayang pelangi jingga 
Meski tak berwajah mengapa begitu memikat?? 
Rasa memang anugerah yang penuh tanda tanya 
Tak bisa teraba namun ia begitu memikat... 
Aku tak mau kau sebut bebal 
Meski harus estafet dalam kepandiran yang sama 
Mencari pelabuhan imaji di samudera kelam 
Hanya berkawan dengan kenaifan 
Benar-benar terkoyak... 
Tak ada lagi gemimtang yang menjadi pedoman 
Hanya seberkas cahaya dari mentari ufuk Timur... 
"Kembalilah pada jiwamu yang telah lama kau abaikan hanya demi Fatamorgana", bisiknya.... 


https://www.facebook.com/teeamtamzir.bugeazt?ref=tn_tnmn
(17 Maret 2013 pukul 7:48)

Bayang Ranah 3 Warna

Pagi ini burung berkicau merdu
Deru Raft dari danau purba, Matano
Membangunkan pagi dari dekapan embun
Terlintas dalam benak akan sketsa kisah tiga warna cerah
Namun, alur yang telah tersusun apik terimprovisasi
Mungkin Tuhan belum meridai kisah ranah 3 warna
Dengan setting dan alur yang telah ada dalam imaji
Ia telah menyediakan alur yang lebih apik
Agar kisahnya menjadi lebih hidup, lebih bermakna...

#BeGratefull ;)

https://www.facebook.com/teeamtamzir.bugeazt?ref=tn_tnmn
(27 Desember 2012 pukul 4:22)

Badai di Sepotong Malam

Perisai... 
Sebuah kata yang tak asing lagi
Paling sering menyapa, tiap jam, menit, bahkan detik
Begitu aneh, namun bukan sebuah imajinasi ataupun fatamorgana
Berkali-kali ia datang
Berkali-kali aku menyambutnya dengan ramah
Meski luka dalam kian melebam dan menganga
Kini, ia datang di saat badai kerinduan akan mereka
Ia melesatkan panahnya diri segala penjuru
Tuhan... Maaf tak bisa memeluknya lebih erat dan membuatnya meradang... 

#ElegiKaku


https://www.facebook.com/teeamtamzir.bugeazt?ref=tn_tnmn
(22 Oktober 2012 pukul 23:30)

Selasa, 11 Maret 2014

Elegi Sang Loranthus


"Aku adalah salah satu ciptaan sang mahakuasa yang dianugerahkan hidup. Panggil saja aku, Loranthus. Sang mahasuci juga menitipkan rasa yang begitu suci padaku, namun terkadang ia menjelma bak bisa yang mematikan..."

Fajar membelah temaram langit subuh. Kicau burung bersahutan menyambut pagi. Embun berlarian mengepak sisa pesta semalam. Ia tak lupa mencumbu stomata dedaunan. Sepoi masih tidur nyenyak, ia masih kelelahan setelah bermabuk-mabukan dengan purnama semalaman suntuk.

Senyum mentari mulai tampak di antara dedaunan. Ia mengintip perlahan. Kicau burung makin riuh bersahutan memenuhi pendengaran, sang embun kini bergelantungan di pucuk-pucuk dedaunan dan pucuk-pucuk rerumputan. Sesekali ia menari memancarkan spektrum cahaya serupa kilau pelangi.

Aku menikmati riuhnya pagi pada dahan tempatku berdiri sekarang - tangkai pohon Jati yang begitu rindang. Dari kejauhan aku tersenyum menikmati harmoni pagi, sesekali mengintip mentari yang mulai meninggi. "Andaikan ku ada di sana, bermain bersama embun, burung, dan pucuk-pucuk basah itu" pikirku. Bukan kali pertama rayuan itu datang menyapa meski aku telah mengubur kata "andaikan dan keluarganya - seandainya, jika saja, andai kata". Setiap ia datang, maka bergegaslah aku mengusirnya dan menepisnya jauh-jauh.

Meski mereka dapat menikmati hijaunya daun, menikmati indahnya bunga - perpaduan merah, kuning, dan hijau - yang ku genggam, namun terkadang rasa janggal tetap saja mengganjal. Ada rasa yang sesekali berkoar, memberontak ingin melepaskan segala kutukan itu. Rasa memang begitu suci, namun ia kan menjelma menjadi bisa tatkala mata tak sanggup menatap warna, dan hati tak mampu lagi mengeja keindahan.

Memang aku tak pernah berpikir tuk menjadi Cemara yang menjulang menembus langit dengan daun jarumnya yang menghijau. Cukup menjadi Kers (Pranus Ceracus) itu lebih dari cukup. Meski tumbuh secara liar dengan batang sederhana, namun ia menjadi tempat yang nyaman bagi sang Kolibri (burung pengisap madu) untuk bermain atau sesekali menikmati buah kecil yang bergelantungan di ujung rerantingnya. Tapi, mungkinkah semua akan berakhir seindah itu?

Asaku berlarian, ia berlarian menuju lagit kelam. Semua tampak abu-abu.

Kini sepoi terbangun, ia beranjak dan mengejar sang embun yang kian menghilang tersapu terik mentari pagi. Hawa sejuk pun kembali terpancar. Ia membuyarkan lamunanku, menetralkan rasa yang mulai bertahta dalam asa.

"Mungkin suatu saat Tuhan kan memberi keajaiban, mengubahku menjadi sebatang pohon tanpa nama, atau mungkin aku kan tetap menjadi Loranthus. Namun yang pasti, Tuhan tak pernah menciptakan sesuatu tanpa makna, begitu pun Aku..."

#TM (10 Maret '14)

Senin, 10 Maret 2014

Aku, Bukan Aku

"Hal yang paling indah adalah ketika jiwa dapat menerima raga dengan segala bentuknya, menjadikan kekurangan raga adalah kelebihan baginya"


Semilir sepoi senja mulai berhembus. Seperi biasa, malas adalah sahabat sejati bagi Tirta kalau jam segini, Jam 4.00 Wita. Ia langsung membaringkan badannya yang minta rihat setelah melepas pakaian kerjanya.

"Huuuuuuuuuhhhhh, hari ini terasa berat dari biasanya" ucapnya sambil meraih sahabat yang selalu berkicau di pikirannya sedari tadi. Memang banyak yang bilang kepadanya kalau ia tak dapat hidup tanpa handphone-nya, tapi ia sangat beruntung karena penyakitnya paham betul karakter Tirta - tak kepikiran handphone saat kerja, kecuali kalau lagi bad mood aja.


Sudah 10 menit ia mengecek handphone-nya namun tak ada pesan yang masuk. Sebenarnya tidak tahu pesan siapa yang ia tunggu. Memang tak ada yang spesial dalam hubungannya dengan orang lain, hanya sebatas teman saja. Namun, ia selalu menanti sapaan, mungkin hanya sebatas say hellow aja atau bahkan pesan BC (broadcast) dari temannya itu bisa menjadi awal munculnya pembicaraan.


"Yah,,,,FB,Twitter, BBM kok pada sepi?? Bintang merah di kolom pemberitahuan juga tak kunjung tiba" pikirnya.


Waktu terus berlalu, Tirta pun pulang balik dari satu aplikasi sosmed ke sosmed lain, namun tak menemui yang ia cari. Pikirannya tertuju pada rutinitasnya yang begitu gilang-gemilang di mata orang. Seperti ada yang mengganjal dalam pikirannya. Sesuatu yang begitu berat sedang berkecamuk dalam benaknya. Ia memang begitu pandai memanage pikirannya (istilah yang ia cap untuk dirinya sendiri). Tak ada yang dapat membaca dengan fasih hal yang ia alami. Ia tak pernah cerita kepada orang lain tentangnya. Hanya sajak-sajak patah yang ia posting di wall atau TL (Time Line) sosmednya yang bisa mewakili sedikit tentang kisahnya. Baginya, yang paham dirinya adalah jiwanya sendiri dan sang pencipta jiwa dan raganya.


Pikirannya semakin jauh dan ia pun mulai timbul tenggelam dalam pergolakan rasa yang ia ciptakan sendiri. Seruan demi seruan bersahutan. Seperti pergolakan angin dan hujan, seruan itu pun kian berkoar. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari rupanya. Ia kembali berkaca pada masa lalunya dan meraba jiwanya, namun ada sesuatu yang tak ia temui lagi. Ia telah memudar atau memang telah pergi. 


Semakin dalam ia meraba jiwanya, semakin banyak ketimpangan yang ia temukan, banyak yang tak berada pada posisinya lagi. Pergolakan rasa yang ia cipta makin hebat. "Ah,,,,aku tak mau larut dan tenggelam dalam dunia ini". 


Namun, semua di luar batas kuasanya. Pikirannya semakin leluasa, ia bertakhta atasnya. Kisah kupu-kupu tak bersayap yang selalu ia kumandangkan tiba-tiba kembali menyapa. Ia hanya tersenyum lesu. Pandangannya begitu nanar. Kini, kupu-kupu tak bersayap itu pun menjelma menjadi singa kecil yang tak bertaring.


"Ada-ada saja"

Mungkin ini adalah caranya bunuh diri perlahan-lahan.

Suara azan Magrib telah berkumandang. Tirta pun kembali dari dunia fantasinya. Kembali ia berpelukan dengan senja, berjabat dengan kelam yang kan membawnya ke dunia mimpi dan mempertemukannya dengan mentari pagi.



#TM (6 Maret 2014)