Rabu, 22 April 2015

Wajahmu Kian Karut Marut

Masih ingatkah kau perjuangan mereka
Menuruni lembah melewati semak belukar
Menembus dinginnya embun pagi
Menerobos teriknya sang mentari
Hanya demi seberkas sinar kehidupan

Masih ingatkah kau tangis mereka
Mereka yang tak bisa menulis di secarik kertas
Mereka yang tak mampu mengeja untaian kata
Mereka yang tak dapat berbicara fasih
Mereka yang hanya bisa duduk tersungkur
Meninjau dunia di kejauhan sana

Kini kau telah merengkuh segalanya
Tak perlu kau melewati cadas yang tajam
Semua telah jelas di depan mata
Tak perlu kau berlari, berkejaran dengan maut
Hanya untuk mengenyam bangku sekolah

Namun, semua begitu ironis
Kau membuat wajah pendidikan tercoreng
Sikap dan tingkahmu semakin tak terdidik

Kau telah mendewakan egomu
Kau tak dapat mendengar lagi nuranimu
Kau terhipnotis dengan kemudahan zaman rumit ini
Kau terbius dengan segala perkembangan teknologi

Semua kau gampangkan
Bahkan ijazah pun dapat kau beli

Tidakkah kau berpikir
Betapa rapuhnya tulang punggung negeri
Generasi yang selalu dibangga-banggakan
Kini menjadi pengkhianat atas bangsanya

Kapan negeri yang damai kan terwujud??
Kapan negeri yang sejahtera dapat terengkuh??

Bangunlah dari tidur lelapmu
Tunjukkan kepada mereka yang telah memandangmu sebelah mata
Buktikan kepada mereka yang telah menutup telinga tentang idemu
Karena dalam  genggamanmulah masa depan bangsa


Bumi Nikel, 22 April 2015

Kamis, 26 Maret 2015

Aku Ada

Lihat ...
Dengar ...
Resapi ...
Tuliskan ...

Kelak ia kan menjadi prasasti
Pertanda kau pernah Ada ...

Dengar dan Rasakan

Rerintik hujan tak kuasa membendung rindu
Pelimbahan tak mampu menolak cucuran atap
Semua telah digariskan Sang Pemberi hidup
Tak ada yang mampu untuk mangkir atau lari

Hidup memang seperti itu
Semua butuh penerimaan

Yah ...
Penerimaan dengan ikhlas
Tanpa cela ...
Tanpa sesal ...


Bumi Nikel, 25 Maret 2015

Tetap Fokus

Imaji berlarian dan beterbangan
Entah ke mana ia kan bermuara
Mencari jalan yang terang
Menggulung segala kelam

Kini ku harus berpacu dengan waktu
Menepis segala ragu
Ku tahu tak ada pemakluman
Karena ini tentang benar salah

Cemas memang cemas
Semua yang telah kurengkuh
Seolah kian mengabur
Samar membayang di pelupuk mata

Ku terus berjalan
Menitih lorong berliku
Berkabut ...
Namun, ku tetap fokus


Bumi Nikel, 25 Maret 2015

Bingung

Bibir lirih seolah berucap
Namun, aku tak kuasa mengejanya
Detik demi detik silih berganti
Angka demi angka tiada henti menari

Mungkinkah kan ada titik terang?
Jika hanya diam membisu
Mungkinkah kan ada jalan
Jika hanya bebrincang dengan lamunan

Hanya kuasa Tuhan yang dinanti
Biarkan tangan tetap menggores sesukanya
Mencari jawaban teka-teki kehidupan
Tuhan kan memberi jalan

Tetaplah bergerak ....


Bumi Nikel, 25 Maret 2015

Rindu di Batas Cakrawala

Desau angin mengalun sendu
Kicau burung berseru bersahutan
Mega kelam berdiri dengan gagah
Langit tampak tak sebiru kemarin

Mungkin langit masih murka
Ia tampak tak bahagia
Dendamnya masih mencekam
Membuat semua tampak kelam

Akh...
Mungkin hanya rasaku saja
Ini hanya impresi belaka

Bumi Nikel, 25 Maret 2015

Kamis, 26 Februari 2015

Tentangmu

Dan aku telah merelakan dua purnama berlalu
Kubiarkan raga tak bersua dengan pesonamu
Namun, bayangmu masih saja melekat utuh

Bukannya memudar
Ia bahkan semakin nyata
Kabar tentangmu kian samar
Sepoi hanya membisu
Diam seribu bahasa

Pekat, 26Feb15 #BumiNikel